Hidup
itu indah karena
di dunia ini
ada banyak hal
yang menarik. Ada
siang dan malam.
Matahari dan bulan.
Aneka bunga yang
berwarna - warni.
Pelangi yang cantik
warnanya. Serangga serangga
yang beranekaragam bentuknya.
Membayangkannya membuatnya ingin terus
berada di dunia khayalnya. Karena
di dunianya setiap
saat adalah malam.
Atau bahkan lebih
buruk, karena malam
pun masih terdapat
cahaya bulan dan
bintang.
Lisa merasa hari
harinya sangat hampa
dan membosankan. Dia
ingin kembali seperti
dulu, seperti anak
anak lainnya, dapat
tertawa bersama, belajar
di sekolah yang
biasa, lalu bersaing
memperebutkan juara untuk
menjadi yang nomor
1. Yang dimilikinya
sekarang hanyalah keluarganya.
Karena berkat merekalah
Lisa masih dapat
bersyukur atas kehidupan
barunya.
Tak lama lagi
akan turun hujan.
Lisa tahu itu
karena matahari siang
yang tidak sepanas
seperti biasanya. Dia
mulai gelisah. Bukan
karena hujan yang
akan segera turun,
tidak, sebaliknya dia
sangat menyukai hujan.
Karena dia dapat
merasakan tetesan-tetesan air
yang membasahi tubuhnya,
rasanya dingin dan
menyenangkan, membuatnya berfikir
hidup itu tidak
selalu hampa. Tapi
yang membuatnya kecewa
adalah dia tidak
dapat mendengar suara
merdu yang telah
ia nantikan. Karena
pengamen itu pasti
tidak akan datang.
Lisa
duduk di ayunan
taman. Ia sangat
menyukai suasana di
taman, apalagi jika
mendung seperti ini.
Semilir angin sungguh
terasa olehnya. Sangat
sejuk dan tenang.
Sambil memejamkan mata,
dia melayang jauh
ke dunia khayalnya.
Terlihat sebuah langit
luas yang ditutupi
oleh sekumpulan awan
abu-abu tebal. Dihiasi
dengan sekumpulan burung
yang berterbangan.
“ Sendiri
aja? Mau ditemani gak? ”,
seorang pria kini
ada di hadapannya,
mengacaukan khayalnya. Dapat
ditebak pria itu
tidaklah baik. Lisa mulai ketakutan. Tiba-tiba
seseorang berkata “maaf,
dia bersamaku”. Dan,
selanjutnya terdengar suara
langkah kaki yang
menjauh. Pria iseng
itu kini telah
pergi.“Makasih”, ucap Lisa
kepada orang yang
telah menolongnya itu.
“ Sudah
mendung, sebaiknya kamu
kuantar pulang. Rumahmu
dimana?”, tanyanya lembut.
Sepertinya dia cowok
yang baik dan
juga sopan. Benar saja, seketika itu
hujan langsung turun.
“ Thanks,
tapi aku suka
hujan” jawab Lisa.
Setelah itu, Lisa
mendengar suara dari
ayunan di sebelahnya.
Laki-laki itu kini menaiki ayunan
tersebut. Kemudian terdengar
petikan gitar dari
arah itu. Lisa
terdiam sesaat karena
terkejut, kemudian ia
tersenyum karena menyadari
pengamen yang ditunggunya
kini ada di
sebelahnya. Pengamen itu
pun kemudian bernyanyi.
Akhirnya usahanya ke
taman tidaklah sia-sia.
Lisa dapat yang
ia inginkan, hujan
dan lagu merdu
itu.
****
Friskal
Kelana Putra, Mereka
bilang kehidupannya sempurna.
Genius, selalu menjadi juara
umum, tampan, dan
tajir. Ia merupakan
satu-satunya pewaris tunggal
pemilik hotel bintang
5. Tapi baginya,
itu berarti ia
tidak dapat mewujudkan
mimpinya, menjadi penyanyi
terkenal. Seperti ayahnya
yang menentangnya saat
ia berkata ia
ingin melanjutkan kuliah
jurusan broadcast..
Ia
memandang ke arah jendela.
Cuaca sangat cerah.
Dia ingin pergi
keluar dan bersenang-senang. Tapi,
ia tidak bisa.
Bahkan tadi pun
ia terpaksa tidak
masuk sekolah karena
demamnya yang tinggi. Sejak
kecil, fisiknya memang
lemah. Ia tidak
tahan terhadap dingin,
khususnya hujan. Makanya,
dia sangat tidak
menyukainya hujan.
Entah
kenapa Ia teringat
pada gadis tunanetra
yang ia temui
di taman kemaren.
Setiap hari, gadis
itu selalu datang ke
taman, dan duduk
di ayunan, kemudian
gadis itu pasti
memejamkan mata diikuti
dengan ekspresinya yang
berubah menjadi lebih
bahagia. Kemudian, ketika
Friskal memainkan gitarnya
sambil bernyanyi, gadis
itu langsung membuka
matanya dan tersenyum.
Gadisitu terlihat sangat
menikmatinya.
“ Apa
hari ini dia
juga datang ya?”,
ucap Friskal lirih.
****
Cuaca
sangatlah cerah. Lisa
duduk di ayunan
dengan perasaan tak
sabar menunggu orang
itu untuk datang
ke taman dan
memperdengarkannya lagu-lagu merdu.
Tapi sayang, meski
mentari mulai terbenam
pengamen itu tak
kunjung datang.
****